Lombok Utara, DTulis.com - Keterbatasan kouta tiket membuat puluhan anggota Asosiasi TO Senaru berbondong-bondong mengantar tamu Mancanegara dan lokal ke loket untuk menyerahkan data agar bisa memperoleh tiket pendakian pada Kamis (3/4/2025).
Para tamu mancanegara ini sempat komplain terhadap pembatasan kouta yang diterapkan oleh Balai TNGR, karena mereka jauh jauh dari negaranya berkunjung ke Lombok hanya untuk melihat keindahan alam gunung rinjani.
Lebih lagi Munawir selaku Ketua ATOS mengatakan bahwa pembatasan kouta tiket ini bisa berdampak buruk bagi citra wisata di senaru.
Lebih lagi, ia juga menjelaskan bahwa puluhan bahkan ratusan wisatawan dicancel oleh para TO anggota ATOS dikarenakan tiket habis.
"Kita promosi habis-habisan, pas tamu datang tiket udah habis," ujarnya.
Sementara itu, Lombok Utara, Kades senaru Raden Akriabuana mengatakan bahwa kebijakan pembatasan kouta tiket oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.
Raden sapaanya juga menambahkan bahwa sejak pasca gempa dan ditambah Covid-19, pertumbuhan ekonomi di wilayah senaru menurun derastis.
"Kebijakan TNGR dengan pembatasan kouta ini sangat mencekik perekonomian di Desa Senaru ini. Selain itu kami dengan beberapa TO merasa kecewa akan hal tersebut lantaran promosi yang kami lakukan dan mendatangkan tamu malah dicegat dengan alasan tiket habis," ujarnya kepada media ini, Rabu malam, (2/4/2025).
Selain itu, dengan dibukanya kembali pendakian ini, selain ajang promosi daerah, juga dianggap momen untuk pemulihan ekonomi daerah.
Lebih lagi, Raden juga meminta kepada Gubernur NTB Lalu Iqbal yang memiliki program NTB mendunia agar bisa menjadi jembatan ke kementrian.
"Kalo gini terus kan lama lama citra lombok ini jelek. bebera TO ketika tamu tidak dapat tiket langsung cancel. Melihat para tamu dengan wajah kecewa membuat kami yang sebagai TO juga sedih dan terpaksa memulangkan para wisatawan mancanegara tersebut," tegasnya.
0 Komentar